Label

adorasi (1) akolit (1) altar (5) ambo (2) anak-anak (1) awam (1) bahasa latin (4) bapa kami (1) berlutut (1) buku (6) busana liturgi (2) cuci tangan (1) devosi (3) diakon (1) dialog (2) dirigen (1) doa damai (1) doa syukur agung (1) doa umat (1) fotografer (1) graduale romanum (1) gregorian (2) hari raya (1) hosti (1) imam (1) intensi misa (1) istilah (1) jalan salib (3) jumat agung (1) jumat pertama (1) kalender liturgi (4) kamis putih (1) karismatik (1) kesaksian (1) kisah sengsara (1) kolekte (2) komuni (3) komuni dua rupa (2) koor (1) kyriale (2) laetare (1) lagu pembuka (1) lamentasi (1) lectionarium (1) lektor (2) litani para kudus (1) liturgi ekaristi (2) liturgi perkawinan (1) liturgi sabda (8) makna liturgi (1) malam natal (1) malam paskah (1) mazmur tanggapan (1) mimbar (1) minggu palma (1) misa anak (1) misdinar (1) missale romanum (2) musik liturgi (6) natal (1) orang kudus (1) ordinarium (2) organ (1) organis (1) paduan suara (3) pakaian misa (1) pantang (1) panti imam (6) partisipasi aktif (1) paskah (1) passio (1) pedupaan (1) pekan suci (3) pelayan sakramen (1) penghormatan salib (1) penyembahan (1) perarakan persembahan (1) perecikan air suci (1) perkawinan (1) perkawinan campur (1) perlengkapan (5) persiapan persembahan (2) pesta (1) petugas liturgi (6) prapaskah (5) prodiakon (3) proprium (2) prostratio (1) puasa (1) putra altar (1) ratapan (1) ritus pembuka (3) rubrik (1) saat hening (1) sakramen (2) sakramen minyak suci (1) sakramen orang sakit (1) sakramentali (1) salam (2) salam damai (1) salib (2) sanctus (1) sekuensia (1) selebran (1) tabernakel (1) tanda salib (1) tarian (1) tata gerak (7) teknologi (1) teks misa (1) terjemahan (6) tiarap (1) TPE 2005 (5) tridentine (2) trihari suci (1) turibulum (1) ujud (1) vesper (1)

Selasa, 01 Februari 2011

TATA GERAK TUBUH SELAMA PERAYAAN EKARISTI

Pertanyaan umat :

prnh saya bergereja katolik d brbagai t4 grj katolik dan pd saat anak domba allah ada yg brlutut dan ada jg yg brdiri./ jd kitakn hrs mengikuti sesuai dgn kptsan KWI.



PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:


Dalam Misa kudus, walau ada bagian-bagian yang boleh berdiri atau berlutut, tetapi tetap ada bagian yang memang seharusnya sama dan tetap di mana-mana sama - jadi bukan atau atau, misalnya:
a. Lagu Pembuka dan menyambut imam yang masuk: BERDIRI.
b. Mendengarkan Bacaan non Injil: DUDUK.
c. Saat Bai Pengantar Injil sampai Bacaan Injil selesai: BERDIRI
d. Saat Prefasi : BERDIRI
e. DSA : BERLUTUT (jika tidak memungkinkan posisinya, misalnya ada bangku campuran - yang lain berlutut tetapi tempatnya tidak memungkinkan karena kursi tambahan atau kursi darurat, boleh duduk asal sikap khidmat)
f. Saat Doa Bapa Kami: BERDIRI
g. Saat "Inilah Anak Domba Allah" : BERLUTUT
h. Saat Lagu Penutup sambil mengiringi imam kembali ke sakristi: BERDIRI.

NB:
Kalau Kemuliaan (Gloria) dan Aku Percaya (Credo) didoakan atau dinyanyikan: BERDIRI.

@ And Adiana: Dalam kondisi campuran, contoh di gereja atau di kapel ada dapat bangku dengan tempat berlutut dan ada yang tidak, maka sebaiknya yang tidak berlutut duduk. Ini ada alasan praktis bahwa kalau nekat berdiri maka posisi hormat kita akan mengganggu konsentrasi dan kenyamanan hati mereka yang berlutut.
Ini persoalannya akhirnya mirip dengan pendatang yang merasa bahwa kebiasaan di gerejanya saat Doa Panutup berdiri, sementara dia menghadiri Misa di gereja yang saat Doa Penutup atau berkat itu berlutut. Maka kalau dia nekad berdiri, ini bukan soal salah dan benar, tetapi soal mengganggu atau membantu kekhidmatan perayaan kebersamaan kita.

Tetapi kalau mau berdiri juga, ya tidak salah maka silahkan cari tempat yang aman dan nyaman untuk orang lain, tetapi juga yakinkan diri dan hati bahwa hati Anda pun nyaman dan fokus kepada peristiwa agung di altar. :-)



Topik :

Pada saat Syahadat, AKU PERCAYA. Kan pada kata2 "YANG DIKANDUNG DARI ROH KUDUS. DILAHIRKAN OLEH SANTA PERAWAN MARIA" Umat harus membungkukkan badan. Kalau yang satu ini....semoga tidak ada yang lupa. Semua pasti sudah menerapkan... :-)

KENYATTAN :
Dari 26 komentar yang masuk, kebanyakan bilang tidak diterapkan. Kenapa?
Dan kenapa baru pada TPE baru diusulkan demikian, sementara sebelumnya sikap membungkuk tidak diberlakukan?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :


Sikap membungkuk di Indonesia memang baru diperkenalkan dalam TPE baru (2005) dan sebenarnya telah jelas dicetak miring dan diberi penjelasan.

Sikap membungkuk adalah untuk memberikan penghormatan kepada 'penjelmaan Putra yang dikandung dari Roh Kudus - melalui (oleh) perawan Maria'.

Maka sikap hormat dan terimakasih atas karya agung Allah itu, pada Hari Raya Natal diungkapkan bukan hanya dengan membungkuk tetapi dengan berlutut.
Dengan sikap berlutut jelas sekali bahwa maksud tindakan hormat bukan pertama-tama kepada Maria, tetapi kepada Allah sendiri yang melakukan Karya Agung dalam diri Bunda Maria.

Mau perbandingan praktis, bisa kita lihat dalam praktik berlutut ke arah tabernakel, bukan untuk menghormati tabernakel sebagai tabernakel, tetapi hormat kepada DIA yang berdiam di dalam tabernakel itu.
Nah, (rahim) Maria adalah "tabernakel" pertama bagi Putra di dunia ini.


PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Saya pikir ada persoalan yang lebih krusial dari pada sekedar gerak tubuh "membungkuk". Tentang TERJEMAHAN INDONESIA pada bagian tersebut. Terjemahan yang ada pada Madah Bakti (Lama) kiranya masih lebih dekat dengan teks aslinya dibanding terjemahan pada TPE (2005) dan Puji Syukur.

Teks asli:
" Et incarnatus est
de Spiritu Sancto...
ex Maria Virgine."

Terjemahan:

MADAH BAKTI (lama):
"Dan Ia menjadi daging
oleh Roh Kudus
dari Perawan Maria"

TPE 2005 dan Puji Syukur:
"YANG DIKANDUNG DARI ROH KUDUS.
DILAHIRKAN OLEH SANTA PERAWAN MARIA"

Siapa yang bertanggung jawab? Apakah ini sebuah slip of typing yang terlanjut disahkan? Mungkin ada pihak yang lebih berkompeten bisa menanggapinya.
Thanx.


PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR:

Sekedar analisa gramatikal (sbg selingan):

ET (conjungsi) = DAN.
INCARNATUS EST(k.kerja koniugasi 1, waktu lampau/ perfectus, bentuk pasif) = TELAH DIKANDUNG.
DE (k.depan yg diikuti k.benda dg kasus ablativus)= DARI/OLEH
SPIRITO (k.benda dgn kasus ablativus singularis) = ROH
SANCTO (k.sifat kelas 1 dgn kasus ablativus singularis, yg menerangkan k.benda Spirito) = KUDUS.
EX (k.depan yg diikuti k.benda dg kasus ablativus) = DARI
MARIA (k.benda dg kasus ablatifus singularis) = MARIA
VIRGINE (k.sifat kelas 1 dgn kasus ablativus singularis, yg menerangkan k.benda Maria) = PERAWAN

disusun menjadi (terj. lurus): DAN TELAH DIKANDUNG DARI/OLEH ROH KUDUS DARI PERAWAN MARIA.

catatan:
teks bahasa Latin di atas adalah teks dari Syahadat Nicea-Konstantinopel (Syahadat panjang).
Teks indonesia (versi Madah Bakti) adalah terjemahan dari Syahadat panjang.
Tetapi teks iindonesia (versi TPE 2005 & PS) bukanlah terjemahan dari Syahadat panjang... yang dikutip justru Syahadat singkat. jadi perbandingan blm bisa dibuat
...
Septo...ngana talalu buru-buru kwa...hehehehe



Pertanyaan :

Pada saat lagu Bapa Kami, apakah sikap/tangan umat harus menengadah.

PENCERAHAN :

PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:

Pedoman umum TPE untuk untuk umat yang diatur sikap badannya adalah hanya gerak besar seperti berdiri, duduk, (berlutut).
Tetapi detail lain seperti "sikap tangan" tidak diatur.
Untuk imam ada aturan tersendiri.
Maka yang perlu diperhatikan adalah agar sikap badan tambahan atas inisiatif sendiri atau lokal (paroki tertentu) tidak mengganggu umat yang lain yang hadir.
Itu untuk Ekaristi pada umumnya. ...

Menjawab apakah umat dilarang mengangkat tangan. Larangan tegas tidak disebutkan. Tetapi tidak bisa ditafsirkan bahwa itu diperbolehkan atau malah dianjurkan.
Tetap harus dijaga keagungan, kesakralan, dan kekhidmatan Perayaan Ekaristi, dan hormat kepada Tuhan yang hadir secara istimewa.


PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR.

Tatagerak ketika 'Bapa Kami' tsb yg diatur hanyalah untuk imam selebran-utama dan konselebran yaitu merentangkan tangan (lih. PUMR 152-153, 237). Umat boleh juga membuka/mrentangkan tangan? Menurut sy, boleh juga, tapi tak wajib, juga tak boleh diwajibkan sec massal utk smua hadirin. Terkait dgn tatagerak ini, hendaknya tak mengganggu kenyamanan sesama umat di samping kiri-kanan.

Pendapat pribadi sy: tata gerak umat tsb (membuka tangan) tak lebih dari gerak devosional pribadi, sama seperti tatagerak mengatupkan tangan di depan/atas dahi sambil membungkuk/ menyembah ketika konsekrasi dlm Doa Sykr Ag.

Ttg aktivitas devosional pribadi dlm PE.
Perayaan Ekaristi mrupakan prayaan komunal, namun serentak juga bersifat personal. Bila aspek komunal saja yg ditekankn mk PE mjd prayaan yg kaku, alien, tak membumi, &cenderung formalistis. Sebaliknya, bila titik berat hy pd aspek personal sj, mk hakikat 'Gereja adalah communio' mjd kabur.

Perlu keseimbangan. Maka, TIDAK dapat dinajiskan sgala aktivitas devosional pribadi (berupa gerak, suara, dll) dlm misa, sejauh itu TIDAK brtentangn dgn norma2 Liturgi Suci (aspek teologis-liturgis) dan TIDAK mengganggu dimensi komunal (aspek sosial-kultural) dr PE. Sebaliknya, itu smakin mperkaya penghayatan pribadi akan PE sbg prayaan bersama. Dgn memberi ruang pd aktivitas devotional pribadi, PE tak hy dihayati sbg prayaan 'milik KITA' melainkan akan smakin dialami sbg perayaan 'milikKU juga'. Sekali lg, asalkan aktivits devosional pribdi tsb tetap dpt dipertanggungjawbkan sec teologis-liturgis dan sec sosial-kultural. Pendek kata, itu OK sejauh tak mjd sandungan, scandalum.


Pertanyaan umat 2 :

Menurut TPE 2005 "Menyikapi soal tata gerak dan sikap tubuh umat saat berdoa Bapa Kami, umat berdiri dan posisi tangan seharusnya pada posisi berdoa (menempelkan/mengatupkan kedua telapak tangan)". Kenyataan yg ada posisi tangan umat hampir mayoritas yg ada dlm posis...i merentangkan tangan/posisi menyembah, mengikuti romo/imam yg memimpin PE. ini salah siapa?

Pencerahan dari Pastor Christianus Hendrik :

Dari segi praktis, kiranya Liturgi resmi Gereja selalu memberi ruang untuk ekspresi pribadi sejauh tidak mengganggu kebersamaan. Merentangkan tangan atau mengatupkan tangan selama doa Bapa Kami rasanya bagian dari ekspresi pribadi yang sah-sah saja (sejauh tidak berlebihan dan lalu mangganggu yang lain).

Yang penting orang tahu maknanya:
- Merentangkan tangan/menengadah/mengangkat tangan ke atas itu seperti dalam perang, tanda orang menyerah kalah. Kita menyerahkan diri di hadapan Allah sambil berdoa Bapa Kami.
- Membuka tangan mengarah ke atas (bukan mengepal/menggenggam) itu tanda pengharapan, kita memanjatkan doa Bapa Kami penuh harapan memohon segala kebutuhan dan keluhan kita sambil membuka diri dan kesadaran yang dirangkum dalam doa yang amat agung ini. GBU all.

Kesimpulan berdasarkan pencerahan dari Pastor Christianus Hendrik :

Mengenai sikap tubuh pada waktu DOA BAPA KAMI (seperti yang tercantum pada TPE 2005), berarti masih ada dispensasi untuk umat yang tangannya mau "bagaimana gitu" - yang penting umat tahu dan sadar dulu ya, bahwa masing2 sikap tangan itu mempunyai makna sendiri seperti yang pastor jelaskan diatas


Pertanyaan umat :

Pada saat berkat penutup, umat selalu kikuk ada yg berdiri dan ada yg berlutut, sebagian tengok kanan-kiri krn tidak pede. Ini hampir selalu terjadi di tiap gereja. Manakah yg benar, menerima berkat perutusan dgn berlutut atau berdiri?

INFORMASI DARI AWAM BP. ANDREAS ADIANA :

kalo melihat ordo missae/buku misa romawi, saat ritus penutup tertulis genuflexi/stantes, artinya berlutut/berdiri.
berarti, kalo memungkinkan, dengan berlutut. tapi apabila tidak dimungkinkan berlutu, maka harus berdiri. cmiiw... selama ini selalu berdiri :)

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Hehehee ..... memang dalam pedoman dimungkinkan kedua sikap itu dipakai.
Namun tentu ada hal praktis juga yang harus dilihat atau dipertimbangkan: yakni posisi umat pada saat Doa Penutup didoakan. Umumnya posisinya tetap sama, supaya tidak ribet, karena toh dua-dua sikap dimungkinkan.
Maksud saya praktisnya begini:
Doa Penutup berdiri - Berkat berlutut - Imam dan misdinar kembali ke sakristi berdiri lagi. Nah kan ribet dan malah tidak hening. Masih lumayan kalau sesudah Doa Penutup ada pengumuman, maka masih ada tenggang waktu dan perubahan karena pasti saat pengumuman umat duduk.

Sebaliknya kalau saat berkat berdiri, lalu imam kembali ke sakristi juga berdiri .... lebih nyaman, dan tidak ribet.

Soal menerima berkat sebaiknya berdiri atau berlutut, ini juga tergantung keadaan dan kebiasaan pribadi. Untuk berkat pribadi misalnya orang minta berkat khusus kepada pastor misalnya mau membacakan pasio, atau mau pergi jauh, umumnya orang itu berlutut.
Sebaliknya berkat bersama, sebaiknya ikuti kebiasaan gereja setempat, artinya kalau kita tamu ya jangan membuat gerakan mendahului orang setempat agar tidak terganggu hati kita. Ikuti saja kebiasaan setempat.
Kalau ditempat itu umat berdiri, atau apalagi imamnya atau lektor mengajak berdiri, misalnya: "Dan kini marilah kita berdiri untuk menerima Berkat Tuhan ....." - ya berdirilah.
Demikian juga kalau lektor mengajak marilah kita berlutut, ya berlututlah.

Berdiri adalah juga sikap hormat yang tidak kalah sopannya dibandingkan dengan berlutut. Coba perhatikan kalau kita menyanyikan lagu Kebangsaan atau memberikan penghormatan saat Bendera kita dinaikkan, atau hormat resmi protokoler upacara kepada komandan, inspektur, .... dan sampai kepada imam yang atas nama Tuhan lewat saat awal dan akhir Misa kudus, kita berdiri. Sikap ini bukan menantang, tetapi hormat. Karena menantang tidak bisa ditentukan dari satu sikap saja, tetapi oleh banyak faktor. Orangnya berlutut tapi matanya mendelik - bisa menantang.

Jadi kembali lagi sebaiknya kita mengikuti adat setempat.
Nah, kalau kita rajin ke gereja pasti soal sikap ini tidak jadi masalah, karena semua umat di situ memang seragam dengan sikap yang sama.

INFORMASI DARI AWAM :

1. BP. IRWAN WIDI DI JOGJAKARTA - sekedar info, di jogja, di gereja manapun, klo romo memberikan berkat penutup, umat selalu berlutut......

2. BP. PASCHALIS DI JOGJAKARTA - Di paroki saya, di Jogja dan beberapa paroki saat berkat penutup umat berdiri...

TANGGAPAN PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

@ Irwan: baguuus, berarti kebiasaan di Yogya (mungkin juga di seluruh KAS) jelas: saat berkat umat berlutut. Jadi kalau ada orang luar Yogya ikutan misa di Yogya, walau di parokinya biasanya berdiri .... ya kalau ikut misa di Yogya berlututlah. ..... :-)

@ Haaaaa???
Lha ini gimana pyantun Ngayogjakarta ini? Pak Irwan bilang di gereja manapun .... sekarang Pascalis di parokinya yang di Jogja juga ..... gak sama ..... :-)
Sekarang makin jelas, satu kevikepan saja bisa beda-beda, apalagi mau se Indonesia atau sedunia ....
Akhirnya kembali kepada point awal .... marilah kita perhatikan kebiasaan setempat dan kita menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat itu, sejauh itu direkomendasikan oleh TPE kita.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Setuju dgn pemdapat Andreas A pada postingan pertama, juga dgn beberapa temans yg lain.

Tambahan input:
Pertama, dalam bahasa Latin, kata 'atau' bisa dimengerti 'sejajar' (=pilihan setingkat), tapi bisa juga dimengerti 'bertingkat' (=pilihan A harus diambil, namun bila tak memungkinkan maka tersedia alternatif lain).

Kedua, dalam rubrik2 Ordo Missae, kata 'atau' dimengerti dlm arti yg kedua.

Ketiga, Perayaan Ekaristi sbg perayaan komunal 'menuntut' kesatuan aklamasi, gerak, nivo, dst.
Karena itu, bila pd TPE dituliskan 'berlutut/berdiri', itu berarti bukan 'saya mau berlutut, maka saya berlutut'. Bukan juga, 'ah, enaknya berdiri, maka saya berdiri'.

Keempat, menurut saya, seraya mendalami jiwa rubrik Ordo Missae, seharusnya tata gerak yg dibuat bersama adalah 'berlutut'; sekiranya kondisi untk berlutut tak memungkinkan (mis: gereja hy menyediakan kursi plastik tanpa tempat berlutut, misa di lapangan terbuka, misa lingkungan di rumah kediaman, dst), maka berlutut boleh diganti dgn berdiri.

Salam, Zepto-Triffon Polii, Sorong.

PENCERAHAN DARI PASTOR CHRISTIANUS HENDRIK SCJ :


Kedua sikap, baik berdiri atau berlutut adalah pantas untuk menerima berkat. Soal pilihan, sudah dijelaskan banyak, intinya Situasional, lihat situasi dan kebiasaan Gereja setempat. Di US, misalnya, Imam atau Deacon akan mengatakan:"Tundukkanlah kepalamu untuk menerima berkat Tuhan melalui Imam" - Yang diperhatikan sikap kepala (entah berlutut atau... See More berdiri-tidak masalah). Menundukkan kepala sikap hormat yang sepantasnya untuk siap menerima berkat Tuhan.
Makna berlutut: Sikap hati lebih pada kepasrahan, menyerah (bertekuk lutut dalam perang), siap menerima apapun juga. Berlutut berarti merendahkan diri dan hati di hadapan Tuhan, menjadi NOTHING di hadapanNya dan membiarkan Allah menjadi EVERYTHING, menjadi berkat kekuatan bagi kita...Maka diikuti juga dengan sikap kepala menunduk. Orang yang mampu menjadi Nothing, siap untuk diisi (berkat) oleh Tuhan.
Sikap berdiri: Juga merupakan ekspresi kesiapan hati yang sopan MENERIMA tugas dan SIAP MENJALANKAN. Jangan lupa, berkat penutup dalam Ekaristi merupakan berkat PERUTUSAN, artinya, setelah menyantap sabda serta Tubuh (dan Darah) Tuhan, kita mendapat tugas untuk mewartakan dan melaksanakannya dalam hidup sehari2, meneruskan Ekaristi itu menjadi Ekaristi yang hidup dalam situasi konkret kita. Untuk itu kita butuh kekuatan Berkat dari Tuhan untuk siap dan mampu melaksanakannya. Maka sikap badan berdiri lebih menunjukkan kesiapan hati untuk menjalankan tugas perutusan sebagai orang beriman yang mau menimba berkat dari Tuhan pada akhir misa. Tetap menundukkan kepala (dan percaya saja bahwa Imam pasti sungguh memberkati - jadi ngga perlu sambil melirik imamnya udah memberkati apa belum...wkwkwk) sebagai ekspresi sikap hormat dan percaya kita akan Berkat istimewa yang Tuhan berikan untuk kita.
Catatan tambahan:
Melihat pentingnya berkat ini, sayang bukan bahwa sering banyak umat, yang karena seribu satu macam alasan, dengan mudah meninggalkan Gereja sesudah komuni tanpa mendapat berkat. Dia sudah kehilangan berkat Tuhan yang sangat dibutuhkan dalam hidup kita. Waktu kecil, ibu saya malah selalu mengajarkan untuk selalu pulang ke rumah dulu sesudah dari misa kudus. Supaya berkat yang diterima itu tercurah juga ke rumah dan seluruh anggota keluarga kita. Bukan malah berkat itu dihambur2kan untuk pemilik restaurant, atau di mall, atau malah di kebun binatang karena habis misa langsung mau rekreasi...sayang kan berkat Tuhan malah diberikan kepada monyet, badak, atau gajah di Bonbin...wkwkwkwk....

Pertanyaan umat :

saya mau sedikit bertanya juga.. apakah menepuk dada saat Tuhan
kasihanilah kami dan Agnus Dei adalah suatu sikap liturgi yg resmi??
apakah hal tsb adalah wajib?? mohon pendapatnya... thx"


PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :


@ all: Dalam 3 bulan terakhir byk kali muncul pertanyaan seputar 'SIKAP/GERAK TUBUH DALAM PERAYAAN EKARISTI', bahkan bbrp pertanyaan yg sama bbrp kali muncul di Page ini.
Berikut ini ada bbrp pokok pencerahan, maaf bila pencerahan berikut ini terlalu meluas. Saya hanya sekedar memberi BINGKAI PEMBICARAAN karena pokok ini byk kali muncul.

Pertama... RUPA-RUPANYA, telah terjadi pencampuradukan antara "SIKAP-TUBUH YG DIBAKUKAN DAN YG BERLAKU UNIVERSAL" di satu pihak, dan "TINDAKAN DEVOSIONAL PRIBADI/KELOMPOK YG BERLAKU LOKAL-TEMPORAL" di lain pihak.

Kedua. Karena LATAR BELAKANG DAN PROSES PERKEMBANGAN UMAT di tiap-tiap tempat (di Indonesia) berBEDA-BEDA, tentu dgn pelbagai alasan yg masuk akal, maka ada bbrp gerak/sikap liturgis yg sebenarnya bersifat devosional-personal-temporal perlahan-lahan seiring perjalanan waktu MULAI DIANGGAP sbg 'yang baku' dan sbg 'yang wajib' bagi semua.


Ketiga. Keanekaragaman tsb menjadi lebih subur apalagi krn DITUNJANG OLEH pelbagai kemajuan, a.l. dlm hal :
A). OTONOMI DIRI. Orang merasa semakin mndapat tempat untuk berekspresi dan menentukan diri, lepas dari dikte dan dari aturan2 (yang sering dipandang kurang mengakomodir kompleksitas suasana batin personal).
B). KETENAGAAN. Semakin banyak guru/katekis/pastor yg dihasilkan dari sekolah2 keagamaan katolik yg sedemikian menjamur
C) TRANSPORTASI, MOBILISASI DAN PEMBAURAN. Kemajuan di bidang transportasi darat/laut/udara dan tuntutan hidup semakin mendorong pesatnya perjumpaan/pembauran antar kelompok umat katolik dari daerah2 yg memiliki latar belakang sejarah yg tak sama.
D). TEKNOLOGI CETAK DAN DIGITAL. Percetakan smakin maju dan distribusi majalah/buku makin lancar. Apalagi, ditunjang dgn pelbagai fasilitas digital yg semakin memudahkan tersosialisasinya suatu paham dan kebiasaan.

AKIBATNYA, banyak orang mengalami kebingungan antara sikap/gerak 'yang baku-normatif' dan 'yang TIDAK baku-normatif'; atau, mana yg otentik dan mana yg tidak.
Tentu, sekali lagi harus diakui bahwa ada BANYAK SEKALI sikap/gerak (yang kini belum-baku dan belum-normatif) tersebut yg SANGAT BAIK dan MENDUKUNG PENGHAYATAN PERAYAAN.

Pencerahan ini tentu masih harus disempurnakan lagi oleh teman2. Semoga, input di atas membantu kita untuk lebih mengetahui hal2 yg turut melatarbelakangi keanekaan gerak/sikap tubuh yg kita pertanyakan.

Salam. Zepto-Triffon Polii, Papua


Pertanyaan umat :

dalam perayaan ekaristi pada saat doa syukur agung jarang sekali/hampir tdk ada umat yg menjawab doa yg dibacakan oleh imam, apakah memang demikian aturan yg sebenarnya ?
dulu saat kami tinggal diasrama dan merayakan misa selalu menjawabnya bersama-sama...mohon infonya


PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

@ Hendry: DSA adalah doa imam pemimpin (presiden) karena itu DSA termasuk kategori doa presidensial.
Aklamasi umat dlm DSA hanyalah pada anamnese dan Amin.
Itulah yg seharusnya. Pengecualian khusus pada DSA untk Anak-Anak pd DSA IX dan X.
Dulu, tidak salah sebab TPE yg dipakai di Indonesia adalah TPE EDISI PERCOBAAN. Kini, edisi itu sdh dinyatakan tidak berlaku, sdh diganti yg baru.

Pertanyaan umat :

sy mau bertanya, pada saat konsekrasi sikap badan umat yg benar bagaimana, apakah mengatupkan tangan dan menyembah atau tidak, lalu saat imam mengatakan Trimalah n makanlah... kita menundukan kepala, mohon pencerahannya


PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Kalau kita lihat petunjuk dalam PUMR:

43. Umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengijinkan, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmat pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi.

150.... Bila dianggap perlu, sesaat sebelum konsekrasi, putra altar dapat membunyikan bel sebagai tanda bagi umat. Demikian pula sesuai dengan kebiasaan setempat, pelayan dapat membunyikan bel pada saat hosti dan piala diperlihatkan kepada umat sesudah konsekrasi masing-masing. Kalau dipakai pedupaan seorang pelayan mendupai roti/piala pada saat diperlihatkan kepada umat sesudah konsekrasi masing-masing.

222. c. Bila dianggap baik, waktu mengucapkan kata-kata Tuhan {Inilah Tubuh-Ku …/ Inilah Darah-Ku }, para konselebran mengulurkan tangan kanan (dengan telapak ke atas) ke arah roti dan piala. Waktu hosti dan piala diperlihatkan, mereka memandangnya, kemudian menghormatinya dengan membungkuk khidmat.

----------------

Jadi sikap umat saat konsekrasi adalah:
a. (Sedapat mungkin) Berlutut. (43)
b. Saat roti dan anggur diangkat, umat memandangnya, kemudian membungkuk khidmat (222.c).

Sikap lain, seperti menyembah dll - adalah berasal dari sikap penghormatan dari budaya setempat.
Apakah salah? Tidak ada jawaban resmi dari dan atas nama Gereja, kecuali menurut petunjuk umum, kini acuannya ya salah satunya PUMR di atas.


PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:


Tentang ini setahu saya sdh pernah dibahas. Mohon admin tunjukkan rangkuman pencerahannya.

Pada intinya, selama DSA umat berlutut/berdiri (=berlutut, jika tidak, berdiri). Tata gerak umat yg di-rubrik-kan dlm DSA pada TPE 2005: berupa 'memandang' ke arah hosti/piala kudus lalu 'membungkuk hikmat' ketika imam berlutut.

Namun demikian, tetap terbuka kemungkinan pada gerak devosional pribadi untuk MENUNJANG penghayatan pribadi atas peristiwa konsekrasi. Tentu ini dpt dibuat asal TIDAK menjadi SANDUNGAN dlm perayaan bersama. Karena itu, dapat dimaklumi bila ketika konsekrasi, ada orang yg MISALNYA mengangkat tangan terkatup ke depan/atas dahi. Atau cara lain yg sesuai dan mengungkapkan penghormatan luhur kpd Yesus.

Dengan demikian PE dialami sbg perayaan BERSAMA yg dialami juga secara PERSONAL. Tata gerak dan penghayatan berjalan seiring.

1 komentar:

  1. permisi, mo tanya..
    apakah tanda salib hanya boleh di lakukan pada saat awal dan akhir doa?? bagaimana dengan pada saat misa? misalnya pada waktu berdoa sebelum dan sesudah menyambut Tubuh Kristus?? atau pada saat sesudah kyrie?? kadang2 sesudah homili ada juga umat yg membuat tanda salib.
    mohon tanggapannya.. :)

    BalasHapus